![]() |
| Mantan TKI Ilegas, akhirnya Sarjana |
Menjadi sarjana bagi Heru Purwanto, pemuda yang lahir di
Desa Cepala, Kecamatan Tekarang, Kabupaten Sambas Kalimantan
Barat, adalah bagian dari cita-citanya untuk memperbaiki kehidupan ekonomi
keluarga. Pada 26 Oktober 2017, Heru diwisuda sebagai sarjana ekonomi dari
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Tanjungpura (Untan) dengan masa
studi 4 tahun 1 bulan dan Indeks Prestasi Kumulatif 3,11.
Heru yang sekarang berusia sekitar 24 tahun, relatif lebih
tua dibandingkan teman-teman seangkatannya. Dia memang tidak langsung kuliah
setamat dari SMA Negeri 1 Tekarang, Kecamatan Tekarang pada 2011 walau lulus
Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di Fakultas Pertanian
Untan pada tahun yang sama. Ketiadaan biaya menyebabkan dia tidak mendaftar
sebagai mahasiswa baru. Pada 2012, Heru mendaftar kembali SBMPTN, namun kali
ini memilih Fakultas Ekonomi dan tidak lulus. Selama tidak kuliah, Heru
membantu ibunya di kampung dengan ikut berladang dan berjualan.
Heru mendaftar lagi SBMPTN di Untan pada 2013. Kali ini dia
dibantu seorang teman yang mengurus pendaftarannya karena Heru masih bekerja
sebagai Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Bintulu, Sarawak, Malaysia. Heru tiba di
Pontianak dari Sarawak menjelang hari pelaksanaan ujian masuk dan dia gagal
lagi.
Heru tidak putus asa. Dia mendaftar ujian masuk tahap kedua
melalui seleksi mandiri dan lulus. Dengan bekal hasil bekerja sebagai TKI
ilegal, dia mampu membayar uang pendaftaran di Fakultas Ekonomi Untan dan
membiayai hidupnya untuk beberapa bulan.
Dia tidak perlu mengeluarkan uang untuk tempat tinggal
karena tinggal di asrama Komite Mahasiswa Kabupaten Sambas. Dia juga senang
memasak sehingga bisa menghemat karena tidak selalu harus membeli nasi dan lauk
pauknya.
Tekad Heru menjadi sarjana kembali menguat ketika menjadi
TKI di Malaysia. Heru, yang saat itu berusia sekitar 20 tahun, melihat
bapak-bapak yang sudah renta bekerja keras demi mencari nafkah untuk keluarga
di kampung halaman. Dia bertanya pada diri sendiri, akankah dia menjadi TKI
yang dirasakannya cukup berat, sampai tua ? Dia tidak ingin seperti itu dan
bertekad memperbaiki nasib keluarganya dengan cara melanjutkan pendidikan
hingga tingkat sarjana.
Sejak lahir, Heru jarang bertemu ayahnya yang selalu
merantau untuk bekerja. Ayahnya pernah bekerja sebagai TKI di Malaysia. Ketika
meninggal dunia akibat tertimpa kayu, beliau sedang bekerja di Pekanbaru Riau
sebagai penebang kayu. Waktu itu Heru masih kelas 3 Sekolah Dasar sementara
ibunya baru saja melahirkan adik Heru satu-satunya.
Kawan ayahnya yang sama-sama bekerja di Riau menyampaikan
kabar duka tersebut. Almarhum dikuburkan di Pekanbaru karena biaya yang cukup
mahal untuk membawa jenasah ke Sambas. Heru dan keluarganya hanya melihat foto
proses penguburan ayahnya dan sampai sekarang belum pernah menziarahi kuburnya.
Menjadi Kondektur
Untuk membiayai hidup dan kuliahnya, Heru bekerja sebagai
kondektur sambilan bis jurusan Pontianak-Sambas dan supir ojek. Heru yang
mudah bergaul dan ringan tangan dalam membantu, cepat dekat dengan para supir
bis yang ditumpanginya ketika menuju Pontianak tempat dia kuliah dan pulang ke
kampung halamannya di Sambas.
Pertemanan dengan supir bis memudahkan Heru mendapat
pekerjaan sebagai kondektur sambilan jika sedang tidak ada perkuliahan. Menjadi
kondektur bagi Heru cukup menyenangkan karena dia bukan hanya mendapat upah,
tetapi juga mendapat makan gratis selama perjalanan dan dapat mengunjungi ibu
dan adiknya di kampung sesering mungkin tanpa mengeluarkan biaya.
Dari pertemanan dengan supir bis, Heru mendapatkan pekerjaan
lain. Misalnya, para supir tersebut akan menghubunginya jika ada penumpang bis
yang turun dekat terminal bis di luar Pontianak dan memerlukan jasa ojek untuk
mengantar ke tempat tujuan di Pontianak .
Heru terus berkembang dan semakin pandai melihat peluang
bisnis dengan memanfaatkan media sosial seperti facebook. Bekerja
sama dengan supir dan pemilik angkutan, Heru menawarkan jasa bis carteran untuk
rombongan. Dia antara lain menawarkan kepada lulusan SMA di Sambas yang akan ikut
ujian SMBPTN di Pontianak atau yang baru saja lulus SMBPTN untuk bepergian
bersama dengan bis yang ditawarkannya sehingga tidak bercampur dengan penumpang
lain. Perjalananpun menjadi lebih cepat karena bis hanya menuju satu tempat di
Pontianak tanpa berhenti menurunkan penumpang selama perjalanan.
Bahkan Heru juga membantu mereka untuk tinggal sementara di
asrama selama di Pontianak. Jasa yang ditawarkannya tersebut sangat membantu
para calon mahasiswa dan mahasiswa baru yang terkadang masih bingung pergi ke
Pontianak sendirian. Dengan pengalamannya tersebut, Heru diminta panitia
untuk mengurus pengangkutan dan akomodasi kawan-kawan angkatannya di FEB Untan
ketika melakukan kunjungan ke Universiti Malaysia Sarawak pada
2016.
Menjadi TKI Ilegal
Penghasilan yang kecil di kampung, mendorong Heru mengikuti
ajakan temannya, yang telah terlebih dahulu bekerja di Sarawak, untuk bekerja
sebagai TKI di sana pada akhir 2012. Dia membayar Rp. 500.000 untuk jasa
pengurusan paspor tanpa perlu pergi ke Kantor Imigrasi.
Heru yang tamatan SMA hanya mengetahui bepergian ke luar
negeri secara legal cukup dengan menggunakan paspor, apapun tujuan kepergian
tersebut. Kawan yang mengajaknya kerja juga tidak memberikan informasi tentang
visa kerja sebagai syarat untuk bekerja di luar negeri.
Heru baru mengetahui bahwa tanpa visa kerja dia hanya boleh
tinggal di Malaysia selama 30 hari setelah dia sampai di Malaysia.
Teman-teman Heru sesama pekerja umumnya juga tidak mempunyai visa kerja.
Di antara pekerja tersebut, ada yang sudah lebih dari 10 tahun bekerja dan
sempat dua kali berganti paspor.
Supaya paspor tetap aktif, setiap bulan sebelum batas waktu
tinggal di Malaysia berakhir, Heru bersama teman-temannya menitip paspor kepada
supir taksi gelap yang merangkap sebagai agen TKI yang biasa membawa TKI ilegal
dari Sambas ke Sarawak, dengan membayar sejumlah uang. Supir taksi tersebut
akan mengurus cap paspor di bagian imigrasi baik di perbatasan Sarawak
(Malaysia) maupun Entikong, Sanggau atau Aruk, Sambas Kalimantan Barat.
Walau selalu merasa cemas dengan status sebagai pekerja
ilegal, Heru menuturkan umumnya kawan kawannya sesama pekerja bangunan lebih
memilih status ilegal. Status ilegal membuat mereka lebih bebas karena
bekerja tanpa ikatan kontrak sehingga mudah pulang ke Indonesia bilamana mereka
menginginkannya. Jika terikat kontrak, mereka tidak bisa pulang sesukanya
karena tergantung ijin cuti.
Selama di Sarawak, Heru pernah bekerja di dua tempat sebagai
buruh bangunan dengan upah RM. 40 per hari. Dalam satu bulan rata-rata dia bekerja
selama 25 hari. Jika pekerjaan di suatu tempat selesai atau jika merasa bosan,
mereka pindah bekerja dengan majikan yang lain, walau apa yang dikerjakan
kurang lebih sama.
Dengan penghasilan yang didapat, mereka mengeluarkan biaya
rata-rata per bulan untuk urunan masak RM. 200, jajan dan lainnya RM. 200
dan ditabung. Heru mengeluarkan biaya cukup besar untuk pulsa karena sering
menelpon ibunya.
Bekerja sebagai buruh bangunan umumnya dengan pola
berkelompok. Kelompok Heru terdiri dari tiga orang. Mereka bekerja mengaduk
semen dan menyusun batako. Heru dan kawan-kawannya harus datang lebih awal dari
tukang karena semen yang sudah diaduk harus siap sehingga ketika tukang semen
datang, mereka bisa langsung bekerja. Mereka juga harus pulang paling akhir karena
harus mengembalikan peralatan kerja pada tempatnya sehingga tempat kerja
menjadi rapi.
Status sebagai pekerja ilegal membuat Heru dan pekerja
lainnya menjadi tidak tenang karena seringkali ada razia. Para buruh memang
membangun pondok dari triplek di lokasi kerja untuk istirahat terutama pada
siang hari. Namun pada waktu malam, mereka lebih sering tidur di bangunan yang
sedang dikerjakan atau bahkan di hutan dengan mengalahkan rasa takut terhadap
hewan berbisa dan hewan buas.
Heru merasa betapa sengsaranya hidup sebagai TKI ilegal.
Mereka sangat takut dengan polisi. Suatu malam ketika sebagian besar pekerja
sedang tidur di pondok, seorang pekerja yang belum tidur memberitahukan
kedatangan polisi untuk razia. Dengan bergegas semua pekerja lari ke luar dari
pondok menuju hutan untuk bersembunyi. Mereka melanjutkan tidur di hutan dan
kembali ke pondok pada pagi hari.
Penutup
Menjadi sarjana bagi Heru lebih dari sekedar ijazah dan ilmu
pengetahuan yang diperoleh di kampus. Kehidupan di Pontianak dan pertemanan
dengan banyak orang dari berbagai strata pekerjaan dan lingkungan sosial
membuat dia semakin terampil menjalani kehidupan.
Heru menjalani hidupnya dengan berjuang tak kenal lelah dan
ikhlas. Dia selalu berpikir ke depan yang membawanya hingga pada tahap
sekarang. Dia bercita-cita menjadi pengusaha dan sudah merintisnya mulai dari
menjadi buruh sampai menciptakan kerja untuk diri sendiri dengan menawarkan
jasa yang terkait dengan angkutan.
Selamat untuk Heru. Teruslah berjuang dan bahagiakanlah
keluargamu. Masa depan yang cerah menanti anak-anak muda yang memiliki mental
baja sepertimu.

0 Komentar